Tips mencari supervisor bagi calon awardee jenjang S3

Mahasiswa University of Wollongong berdiskusi bersama di depan laptop

Sumber gambar: University of Wollongong (UOW Media), Education – Student Life. Lihat sumber asli

Ada beberapa tahapan yang wajib ditempuh oleh awardee yang akan melanjutkan studi doctoral kampus luar negri. Salah satunya adalah awardee sudah mendapatkan calon supervisor yang akan membimbing penelitian saat berstudi nanti. Berikut adalah beberapa tips yang bermanfaat khususnya bagi anda yang ingin berstudi ke Australia.

1. Carilah kampus yang menawarkan program yang sesuai. Hampir semua kampus di Australia menawarkan PhD program dengan persyaratan yang berbeda-beda. Carilah dengan cermat kampus apa saja yang menawarkan program tersebut. Pelajari secara teliti semua persyaratan masing-masing kampus dan pastikan semua syarat yang diminta dapat dipenuhi, seperti score IELTS, background studi sebelumnya, pengalaman terlibat dalam penelitian dan publikasi.

2. Umumnya syarat utama bagi awardee yang ingin melanjutkan studi jenjang S3 adalah adanya pengalaman melalukan penelitian/project dan atau pernah melakukan publikasi ilmiah. Jika anda belum memiliki satu di antaranya cobalah membuat tulisan akademis dan publikasikan. Lebih bagus publikasi dalam bahasa Inggris, tidak masalah jika dipublikasikan di jurnal level nasional atau jurnal milik salah satu universitas di Indonesia. Untuk mensiasati biaya publikasi, anda dapat berkolaborasi dengan teman-teman yang se area dengan anda, baik di pekerjaan, yang sedang berstudi di dalam dan luar negeri (afiliasi).

3. Jika anda tidak ingin menempuh tips 2, carilah kampus yang menawarkan program yang terintegrasi dengan subject. Misalnya di University of Wollongong, kampus ini menawarkan program PhD (integrated) yang mewajibkan mahasiswa S3 yang tidak memiliki pengalaman pada point 2, untuk menyelesaikan subject/courses wajib sebelum konfirmasi pada 1 tahun awal, dan wajib lulus dengan score minimal 65% atau Pass.

4. Siapkan dokumen-dokuken pendukung sebelum mengirimkan email lamaran kepada calon supervisor. Dokumen tersebut antara lain: research proposal dengan structure standar, CV yg isinya relevant dan menarik, score IELTS, LoG (Letter of Guarantee) pembiayaan studi dari pihak sponsor sperti LPDP, ijazah master dan transcript. Jangan lupa email yang isinya menyatakan minat anda dalam penelitian dan alasan memilih kampus dan calon supervisor anda.

5. Setelah menentukan kampus dan fakultas, serta dokumen penting, mulailah mencari calon supervisor. Ini merupakan bagian yang paling menantang, karena anda wajib bermental baja untuk menyiapkan hati terhadap penolakan demi penolakan yang akan anda terima. Calon supervisor tidak harus bergelar Profesor, yang penting area of interest menyentuh atau sedikit berkaitan dengan proposal penelitian anda, itu sudah sangat baik. Karena kalau mencari yang sama persis akan sangat susah. Kemudian, lihat kembali jumlah mahasiswa yang saat ini masih aktif dibawah bimbingan calon supervisor anda, kalo sudah cukup banyak kemungkinan lamaran anda ditolak karena sudah ‘overload’.

6. Kirimkan email sebanyak-banyaknya ke semua calon supervisor yang potential. Dengan format yang sama dan jangan lupa mengubah nama kampus tempat calon supervisor bekerja saat ini. Anda dapat mengirimkan email yang sama ke beberapa calon supervisor yang anda bidik, tidak perlu menunggu respon dari salah satunya untuk mengirim email ke tujuan lain. Hal ini sangat menghemat waktu anda.

7. Tunggu respon mereka dengan rajin mengecek email yang masuk. Jika sudah ada respon positif segeralah membalas dan menindaklanjuti arahan mereka, seperti follow up online meeting atau review proposal.

Note: tips ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Pengalaman ini mungkin berbeda dengan awardee S3 yang lain. Mohon maklum. Happy supervisor hunting!

Tinggalkan Balasan