Market Access to Market Success: Unlocking the Potential of Indonesian Export to Australia

PPI Australia dan Mata Garuda ANZ Dorong Pelajar dan Diaspora Jadi Jembatan Belajar Ekspor Indonesia-Australia lewat Seminar Ekspor di Melbourne
(Depan, ketiga dari kiri) Konsul Jenderal RI di Melbourne (Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo), Atase Perdagangan RI di Canberra (Agung Haris Setiawan), Direktur Waroeng SS Australia (Michael Samsir) bersama Presiden PPI Australia (Muhammad Hadiyan Ridho), Chairman Mata Garuda Australia-New Zealand (Jonathan Hasian Haposan), beserta para peserta luring Seminar Ekspor di Carrillo Gantner Theatre, Sidney Myer Asia Centre University of Melbourne.

Melbourne, 23 Januari 2026 – Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) bekerja sama dengan Mata Garuda Australia–New Zealand (MGANZ) menyelenggarakan seminar bertajuk “Market Access to Market Success: Unlocking the Potential of Indonesian Export to Australia” secara hybrid di Sidney Myer Asia Centre, University of Melbourne. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi ekspor secara praktis dan strategis bagimahasiswa, diaspora, serta pelaku UMKM di Indonesia yang ingin memahami akses pasar Australia.

Acara in mencatat antusiasme tinggi dengan total pendaftar mencapai lebih dari 200 peserta, dengan 60 peserta di antaranya secara luring. Peserta bergabung dari berbagai wilayan zona waktu, termasuk Australia, Indonesia, Selandia Baru, dan Singapura, serta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, diaspora Indonesia, pelaku usaha, hingga praktisi di bidang ekspor-impor yang berdomisili di Indonesia maupun Australia. Hal ini mencerminkan kuatnya minat diaspora Indonesia terhadap peluang bisnis lintas negara, khususnya pada koridor Indonesia-Australia.

Dalam diskusi, peserta mendapatkan pembahasan terstruktur mengenai: peluang ekspor Indonesia-Australia, dasar ekosistem dan proses ekspor, strategi awal memasuki pasar Australia, serta kesiapan dan kolaborasi nyata bagi calon eksportir. Seminar juga menekankan pentingnya pemahaman standar, sertifikasi, dan biosecurity sebagai prasyarat meamsuki pasar Australia.

Seminar menghadirkan narasumber lintas perspektif: Agung Haris Setiawan (Atase Perdagangan RI di Canberra) yang membahas peluang perdagangan bilateral, realitas akses pasar di Australia, serta sarana konsultasi oleh Atase Perdagangan RI di Canberra; Choirul Amin (Founder Ekspor.id) yang, berbagi strategi eksekusi ekspor dan kesiapan UMKM dalam memasuki pasar global; serta Michael Samsir (Direktur Waroeng SS Australia dan pelaku ekspor) yang, membagikan pengalaman praktis sebagai pelaku usaha Indonesia di Australia. Diskusi dipandu oleh Tika Titania Benny (University of Melbourne) sebagai moderator.

Konsul Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Bapak Johannes Jatmiko Heru Prasetyo, menegaskan bahwa forum semacam ini bukan sekadar diskusi, tetapi ruang strategis untuk membangun kapasitas diaspora. “Seminar ini… bukan hanya forum diskusi, tapi juga merupakan satu ruang strategis untuk menumbuhkan keberanian, visi maupun juga jejaring kerja dari generasi muda Indonesia di Australia,” ujarnya, sembari menekankan pentingnya trust dan etika dalam berbisnis sebagai fondasi yang tidak bisa ditawar.

Presiden PPI Australia, Muhammad Hadian Ridho, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan pemantik rangkaian kolaborasi yang lebih luas. “Acara ini bukanlah acara akhir… ini merupakan acara awal atau trigger untuk acara-acara networking terkait dengan ekspor ke Australia selanjutnya,” katanya. Ia juga mendorong mahasiswa untuk berperan sebagai market intelligence, mengamati kebutuhan pasar, pola konsumsi, hingga perbandingan harga sebagai masukan bernilai bagi UMKM di Indonesia.

Ketua MGANZ, Jonathan Hasian Haposan, menekankan urgensi kewirausahaan sebagai bagian dari kontribusi diaspora dalam mendorong Indonesia naik kelas. Ia juga meluruskan kekhawatiran mahasiswa terkait ruang gerak berwirausaha. “Kami ingin mendorong lahirnya calon eksportir baru yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap secara strategis dan praktis menghadapi pasar Australia,” ujarnya. Jonathan menambahkan bahwa seminar ini dihadirkan sebagai “bridging” agar mahasiswa yang ingin mencoba tidak lagi bingung harus memulai dari mana.

Narasumber Seminar Ekspor, Atase Perdagangan RI di Canberra (Agung Haris Setiawan), Direktur Waroeng SS Australia (Michael Samsir), founder ekspor.id (Choirul Amin, via daring), bersama moderator Tika Titania Benny (Master of Management, University of Melbourne) memaparkan materi Seminar Ekspor di Carrillo Gantner Theatre, Sidney Myer Asia Centre University of Melbourne.

Dari sisi kebijakan dan akses pasar, Agung Haris Setiawan menegaskan bahwa kesalahan paling umum eksportir pemula adalah menyamakan standar Indonesia dengan negara tujuan. “Tidak mengenal standar sertifikasi dan juga biosecurity yang paling jadi kesalahan umum bagi eksportir pemula,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya riset, bertanya pada kanal resmi, serta memahami bahwa ekspor adalah proses bertahap yang membutuhkan kesiapan dokumen, akses buyer, dan kepatuhan terhadap regulasi setempat.

Sementara itu, Choirul Amin menyoroti bottleneck yang sering dihadapi UMKM bukan hanya pada pencarian buyer, melainkan saat bernegosiasi dan membangun kepercayaan. Ia juga menekankan kesiapan sertifikasi produk, khususnya untuk kategori pangan. “Ada yang bilang produk saya itu enak… Enak saja tidak cukup, [produk] harus aman dikonsumsi,” ujarnya, menegaskan bahwa pasar maju menuntut kepatuhan formal yang kuat di samping kualitas rasa.

Seminar Ekspor PPIA x MGANZ ini diselenggarakan secara gratis dan mendapat dukungan dari Atase Perdagangan RI di Canberra, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne, LPDP University of Melbourne Association (LUnA), PPI Dunia, dan PBK Noodles. Acara berlangsung secara hybrid pada Jumat, 23 Januari 2026, pukul 14.00–18.00 WIB atau 18.00–22.00 AEDT, bertempat di Carrillo Gantner Theatre, Sydney Myer Asia Center, The University of Melbourne, serta secara daring melalui Zoom.

Para narasumber (tengah), Michael Samsir (Direktur Waroeng SS Australia), Agung Haris Setiawan (Atase Perdagangan RI di Canberra), Choirul Amin (founder ekspor.id, via daring), beserta para panitia PPI Australia dan Mata Garuda Australia-New Zealand, serta undangan perwakilan cabang dan ranting PPIA.

Leave a Reply